Wagup NTT Ajak Hidupkan Kinerja dengan Kolaborasi kepada Pengelola Air se-Provinsi NTT

Kupang – Wakil Gubernur (Wagub) Nusa Tenggara Timur (NTT) Drs. Josef Nae Soi, mengajak seluruh para pengelola air minum bersih dari 21 kabupaten/kota se-Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk bekerja dengan sungguh dan menghidupkan kinerja dengan Koordinasi dan kolaborasi. Sehingga dengan demikian, tujuan yang hendak dicapai mencapai sasaran dan memuaskan.

Ajakan tersebut disampaikan Wagub NTT, Josef Nae Soi saat membuka Rapat Koordinasi Percepatan Penanganan Air Bersih di Provinsi Nusa Tenggara Timur, di Hotel Neo Kupang, Kamis (23/4) pagi. “Dalam melayani masyarakat kita perlu menyatukan persepsi. Kita harus saling menghidupkan kinerja satu sama lain, dengan berkoordinasi dan kolaborasi untuk dapat mencapai sasaran kerja,” katanya.

Dikatakannya, air bersih adalah kebutuhan vital yang tidak bisa digantikan dengan apapun, tanpa air, semua mahluk hidup pasti mati. Dan khusus untuk Provinsi NTT, air bersih masih menjadi persoalan. Dibeberapa Kabupaten di NTT ini, masih terjadi kesulitan mendapatkan air bersih. “Karena itu saya mendorong, agar kita semua khususnya para pengelola air bersih harus berpikir dan bekerja keras untuk mengatasi kesulitan air di daerah kita ini,” tandasnya.

“Intinya, rakyat bisa mendapatkan air. Jangan terbelenggu dengan aturan dan struktur yang ada. Kita langsung eksekusi, baik melalui air tangki atau pipa, agar masyarakat bisa menikmati. Bapak-Bapak dan ibu-ibu ini tugasnya sangat mulia, karena masyarakat membutuhkan air dan kita bersama bisa menghantarkan air kepada mereka. Bekerjalah melalui tahapan-tahapan kerjasama, upaya pemenuhan kebutuhan air bersih harus mencapai 100 persen,” pintanya.

Selanjutnya Wagub Josef Nae Soi, mendorong kepada peserta Rakor untuk membuat program yang bisa mengatasi kesulitas air di Kabupaten/Kota masing-masing. Karena Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden M. Yusuf Kala (JK) sangat memperhatikan kondisi di NTT.  “Kita perlu bersyukur karena Presiden Jokowi sudah membangun tujuh bendungan di NTT. Belum lama ini, dia datang dan resmikan Bendungan Rotiklot di Kabupaten Belu. Saya kemudian berbicara kepadanya, agar kalau boleh, dibangun 20 bendungan lagi di NTT,” paparnya.

Harus diakui, demikian Wagub NTT Presiden Jokowi memiliki perhatian yang tinggi, yang sudah terlebih dahulu bekerja, karena itu sebagai pemilik daerah ini, mestinya kita harus mampu melakukan yang lebih dari apa yang sudah Presiden lakukan. “Kita lanjutkan kepada masyarakat. Apa yang dilakukan oleh Jokowi tentu sangat baik bagi masyarakat NTT. Besarnya perhatian Presiden RI itu bisa mengatasi masalah kekeringan di NTT,” tegasnya.

Wagub kelahiran So’a-Ngada berharap, melalui rapat koordinasi ini, berbagai masalah air bersih bisa diatasi. Tahun depan, sudah harus ada laporan mengenai apa hasil dari rapat kali ini. Peserta rapat dari daerah atau kabupaten, jangan sampai datang ikut rapat lalu pulang dan cuma lapor kegiatan. Tapi harus bekerja dengan solusi-solusi yang sudah ditemukan.

Hal lain, Wagub juga mengingatkan kepada pengelola air bersih di semua Kabupaten/Kota, untuk tidak menggunakan cara yang kurang baik, seperti menjual air untuk kepentingan pribadi. “Di dunia ini kita sudah diberikan berkat melalui tugas, maka laksanakan itu dengan hati. Kita juga mesti ingat, untuk tetap selalu memperhatikan kebersihan lingkungan dari sampah,” tambah Wagub Josef Nae Soi.

Sebelumnya, Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) NTT, Rosye Hedwin Dopo tujuan Rakor untuk menghasilkan strategi percepatan penanganan layanan air bersih, terutama pada lokasi desa yang dikategorikan dalam ‘desa rawan air. “Maksud dan tujuan rapat koordinasi ini diantaranya, sebagai wadah untuk mendiskusikan isu, permasalahan dan strategi percepatan pemenuhan kebutuhan air bersih, bagi masyarakat di NTT untuk tahun 2018 hingga 2023,” demikian Hedwin Dopo.

Rakor juga jelas Dopo, untuk memetakan capaian layanan air bersih di Kabupaten/Kota di NTT, meningkatkan kinerja pelaksana penyelenggaraan, mendiskusikan isu dan permasalahan air bersih, strategi penanganan dan menetapkan target bersama. Rapat koordinasi tersebut dilaksanakan mulai tanggal 23 sampai dengan 25 Mei 2019 dan dihadiri oleh 110 orang peserta. (Biro Humas NTT/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *