Pencanangan HMPI dan BMN Tingkat Kabupaten Manggarai Barat dipusatkan di Hutan Kota

Labuan Bajo (16/12)–Dinas Kehutanan Kabupaten Manggarai Barat, pada hari ini, Jumat (16/12) melakukan kegiatan Pencanangan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Bulan Menanam Nasioanal (BMN) tingkat Kabupaten Manggarai Barat. Kegiatan Pencanangan HMPI dan BMN ini dipusatkan di lokasi Hutan Kota Kelurahan Wae Kelambu, Kecamatan Komodo yang terletak tepat di depan Kantor Bupati Manggarai Barat.

Hadir dalam kegiatan ini, Bupati Manggarai Barat, anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para Asisten Sekda Manggarai Barat, Para Staf Ahli Bupati dan semua pimpinan Dinas, Badan, Kantor, Bagian lingkup pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, instansi vertikal dan sejumlah tokoh masyarakat.

Ketua Panitia Fransiskus Yusuf, SP., dalam laporannya dalam Kegiatan Pencanangan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Bulam Menanam Nasional (BMN) tingkat Kabupaten Manggarai Barat, hari ini, Jumat (16/12) mengatakan pohon sebagai salah satu sumber daya alam hayati, merupakan unsur penting dari Lingkungan Hidup yang mendukung hidup dan kehidupan.

Pohon memberikan pelayanan kepada manusia untuk dapat hidup di muka bumi, sehingga manusia mempunyai keterkaitan yang erat dengan keberadaan pohon serta populasinya. Manusia harus menjaga dan memelihara pohon-pohon baik di dalam kawasan maupun di luar kawasan hutan.

Menurut Yusup, munculnya bencana banjir, longor dimusim hujan dan kekuranagn air dimusim kemarau adalah dampak langsung dari degradasi hutan. Kita harus menyadari rusaknya hutan sangat berdampak langsung pada rusaknya tata air dan terjadinya erosi tanah. “Disini sangatlah jelas, bahwa hutan atau populasi pohon sangat mempengaruhi dan berperan dalam menjaga kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup di muka bumi ini,” tandasnya.

Lebih lanjut disampaikannya, luas kawasan hutan di Kabupaten Manggarain Barat seluas 75575,71 ha, yang tersebar di 11 (sebelas) kelompok hutan . Dari total luas tersebut, 49468,30 ha megalami kerusakan dan tergolong kritis. Sedangkan lahan kritis di luar kawasan hutan Negara seluas 195.193 ha.

Data tersebut, demikian Frans menunjukan bahwa diperlukan berbagai upaya konservasi lainnya untuk menyelamatkan lahan kritis tersebut. “Untuk menjaga keberadaan hutan maka diperlukan upaya perlindungan dan pengamanan hutan yang melibatkan berbagai elemen baik dari pemerintah maupun masyarakat di sekitar hutan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Manggarai Barat, Ir. Dominikus Damsut, kepada humas.manggaraibaratkab.go.id mengatakan puncak kegiatan HMPI dan BMN tingkat Kabupaten Manggarai Barat merupakan gerakan yang bersifat stimulant untuk memulihkan kondisi hutan dan lahan sebagai system penyangga kehidupan. Untuk mencapai hal tersebut, diharapkan agar semua lapisan masyarakat sepatutnya menumbuhk-kembangkan pelaksanaan secara mandiri sebagai wujud cinta pohon dan cinta kehidupan.

Sementara itu dijelaskan mantan Kadis Perhubungan, Informatika dan Komunikasi ini, total bibit yang ditanam pada HMPI dan BMN tahun 2016 ini, sebanyak 74285 anakan. Dengan rincian kegiatan sebagai berikut:, pada Hutan Rakyat di dua Desa di Kecamatan Mbeliling (Golo Desat, Tiwu Riwung) sebanyak 44000 anakan jenis mahoni untuk 40 ha, dan satu desa di Kecamatan Lembor Selatan (Watu Waja), sebanyak 11000 anakan mahoni untuk 20 ha.

Selain itu menurut Damsut, pemeliharaan cendana tahun pertama di Daleng Desa Watu Panggal dan Sano Nggoang seluas 15 ha, dengan jumlah 1500 anakan cendana. Pengembangan Cendana di Nggoang, Desa Sano Nggoang Kecamatan Sano Nggoang pada 15 ha, sebanyak 13750 anakan cendana. Sedangkan kegiatan Manggarai Barat Hijau pada 10 kecamatan se-Manggarai Barat, sebanyak 15165 anakan yang terdiri dari jati 2500, cengkeh 8000 dan cendana 4665 anakan. Khusus hari jumlah yang dianam secara serentak sebanyak 6370 anakan.  Rinciaannya, mahoni sebanyak 5500, sengon 1200. (Frumen Amas, Infokom/**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *