Pagi Ini, Bupati Mabar Resmikan Judesa di Desa Siru-Lembor

Desa Siru, Lembor – Bupati Manggarai Barat (Mabar) Drs. Agustinus Ch. Dula pagi ini (Sabtu, 28/04) meresmikan pemanfaatan  Jembatan Untuk Desa Asimetris (Judesa) di Desa Siru Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat. Judesa ini merupakan Inovasi Teknologi Badan Litbang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Pantauan humas.manggaraibaratkab.go.id, Bupati Gusti Dula datang bersama rombongan dari Kementerian PUPR RI, Kejari Manggarai Barat, Julius Sigit Kristanto, SH., MH., Kapolres Manggarai Barat, AKBP Julisa Kusumowardono, S.I.K., M.Si., serta rombongan lainnya. Rombongan Tiba dilokasi sekitar pukul 10.00 Wita, dan langsung diterima secara adat sesuai adat setempat.

Untuk diketahui Judesa merupakan salah satu terobosan untuk meningkatkan konektivitas antar-desa, yang pada gilirannya akan mendorong perkembangan ekonomi pedesaan. Pengembangan teknologi tersebut juga merupakan implementasi Nawacita ketiga Presiden Jokowi, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran. Yakni, dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

Dengan Judesa, dapat menghubungkan antar-desa atau kawasan terpencil yang dipisahkan oleh kondisi alam, seperti sungai, lereng, bukit, ataupun jurang. Jembatan gantung ini sangat diperlukan dalam menghubungkan Desa Siru dan Wae Wako Kecamatan Lembor.

Berikut sekilas data bangunan Judesa di Siru Kecamatan Lembor. Tipe jembatan adalah Jembatan Gantung Asimetris, panjang 62,0 meter dan lebar 1,8 meter.dengan standar beban sebesar 300 Kg’m2. .

Judesa ini bisa dimanfaatkan oleh pejalan kaki dengan maksimal 4 orang’m2,  bisa dilewati motor asal dilakukan secara bergantian. Motor roda tiga bisa melewati Judesa dengan muatan 50%. Mobil dan hewan ternak besar seperti Kerbau, Sapi dan Kuda tidak diperkenankan melewati Judesa.

Pembangunannya Judesa ini tentu dapat membantu menghilangkan hambatan masyarakat di Desa Siru dan Wae Wako terutama dalam kaitan untuk mendapatkan akses pendidikan, informasi, pemasaran hasil pertanian, dan barang/jasa yang dibutuhkan untuk kehidupan mereka sehari-hari.

Konstruksi Judesa dikerjakan selama 120 hari kelender. Judesa memiliki beberapa keunggulan yang membuatnya sangat cocok untuk diterapkan di kawasan terpencil, yaitu fleksibel dan ekonomis.

Keunggulan tersebut antara lain, materialnya merupakan pre fabrikasi, sehingga dapat disiapkan untuk dikirim ke lokasi. Kemudian sistem jembatan modular yang memberikan kemudahan pembangunan dengan swadaya masyarakat.

Metode konstruksi Judesa satu arah/dari satu sisi sungai. Sehingga cocok untuk membuka jalur perintis dan mengurai pengangkutan material menyebrangi sungai.

Sebelumnya Balitbang Kementerian PUPR melalui Pusat Litbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi telah melaksanakan ujicoba sejak Tahun 2015 di Desa Cihawuk dan Desa Cibeureum, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Pada tahun 2017 dilakukan replikasi perdana yang berlokasi di Desa Siru dan Desa Wae Wako, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sebelumnya dipisahkan oleh Sungai Wae Laci. Namun kini sudah terhubung dengan adanya Judesa sepanjang 62 meter. Biaya yang diperlukan untuk membangun Judesa di Kabupaten Manggarai tersebut adalah Rp 1,5 milyar.

Beberapa warga yang ditemui mengaku bersyukur dengan adanya Judesa. Sebab, masyarakat dapat menempuh perjalanan lebih singkat dari semula 15 km menjadi 5 km menuju Ibukota Kecamatan Lembor. Judesa juga bermanfaat untuk memasarkan hasil produksi pertanian dan akses menuju tempat pendidikan. (Tim Humaspro/**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *