Dokumen Pengelolaan Sampah Labuan Bajo dan Kawasan TNK Ditandatangani Bupati Mabar dan Kepala TNK

Labuan Bajo-Penanda tanganan dan Penyerahan Dokumen Panduan Pengelolaan Sampah Kota Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo (TNK), Senin (06/11) ditandatangi oleh Bupati Manggarai Barat, Drs. Agustinus Ch. Dula dan Kepala Balai Taman Nasional Komodo,Ir. Sudiyono,M.Si. Penanda tanganan ini dilaksanakan di Hotel Luwansa, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.

Kegiatan ini disampaikan Jensi Sartin, Site Coordinator, Komodo MPA, WWF-Indonesia melalui siaran pers kepada Humas Manggarai Barat (Senin, 06/11).
Dalam mengatasi sampah, WWF-Indonesia mendukung Pemda Manggarai Barat dan Balai Taman Nasional Komodo sepakati rencana pengelolaan sampah kawasan kota Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo.

Pada kesempatan ini Bupati Manggarai Barat, Drs. Agustinus Ch. Dula mengatakan dokumen pengelolaan sampah Kabupaten Manggarai Barat ini merupakan satu langkah nyata untuk menata wilayah Labuan Bajo dan TNK. Dengan berbagai cara pengelolaan sampah di Kabupaten Manggarai Barat harus menjadi kepedulian bersama.

“Sampah tak bisa di kelola hanya dengan satu cara. Butuh integrasi hulu-hilir, koordinasi semua pihak, keterpaduan sarana dan prasarana serta peraturan yang kuat agar pengelolaan sampah bisa betul betul berjalan sinergi,” ungkap Bupati.

Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Ir. Sudiyono,M.Si ditempat yang sama menyampaikan bahwa
Sebagai rumah bagi satwa Komodo (Varanus Komodoensis) dan dengan status Situs Warisan Dunia (World Heritage Site ) serta Cagar Biospher (Man and Biosphere) yang diberikan oleh UNESCO, Taman Nasional Komodo menjadi salah satu tujuan wisata yang menunjukkan grafik kunjungan yang terus naik dari luar maupun dalam negeri.

“Keunikan satwa komodo, ditambah pari manta dan hiu menjadikan Taman Nasional Komodo sebagai dive site premier yang terus menarik kunjungan wisata. Aktivitas wisata dan sampah kiriman dari luar kawasan, membuat Taman Nasional Komodo dibebani oleh sampah yang tentu saja dapat menganggu kelestarian ekosistem Taman Nasional Komodo itu sendiri jika tidak dikelola”, katanya.

Menurut M. Erdi Lazuardi, Project Leader Lesser Sunda Seascape, WWF-Indonesia, dokumen ini disusun sejak Tahun 2016 oleh Pemda Manggarai Barat dan Balai Taman Nasional Komodo dengan dukungan WWF-Indonesia menggunakan standar pengkajian sumber timbulan, komposisi, dan karakteristik sampah sesuai dengan tata cara yang tertera pada SNI 19-3964-1995 dan SNI M 36-1991-03.

“Salah satu tantangan utama dalam pengelolaan kawasan konservasi perairan adalah bagaimana mengatasi permasalahan di darat, salah satunya adalah sampah. Hasil kajian tim penyusun rencana pengelolaan mendapatkan bahwa rata-rata timbulan sampah yang dihasilkan Kota Labuan Bajo sebesar 112,4 m3/hari setara 12,8 Ton/hari, dimana 33% sampah anorganik daur ulang/ ekonomis” kata Erdy Lazuardi.

Lebih lanjut kajian menunjukkan rata-rata timbulan sampah yang dihasilkan Kawasan Taman Nasional Komodo dari area pemukiman sebesar 12 m3/hari atau setara dengan 0,7 ton/hari, dan sampah dari kawasan wisata sebesar 0,2 m3/hari atau 0,01 ton per hari.

Dokumen ini menyimpulkan bahwa pengelolaan sampah di Taman Nasional Komodo tidak bisa dipisahkan dari Labuan Bajo. Direkomendasikan investasi penambahan infrastruktur persampahan, penambahan jumlah dan fungsi TPS 3R, pemisahan fungsi regulator dan operator persampahan, penegakan peraturan persampahan khususnya terkait pemilahan dan retribusi, dan penerapan Tempat Pengolahan Akhir dengan system sanitary landfill. Dan terpenting juga adalah partisipasi masyarakat.

“Dokumen ini diharapkan menjadi panduan dan pegangan para pihak, yang jika diterapkan menyeluruh maka Manggarai Barat, utamanya kota Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo akan menjadi model yang baik dalam pendekatan landscape-seascape maupun ridge to reef: pengelolaan terintegrasi darat-laut,” tutup Erdi Lazuardi.
(***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *