Bupati Gusti Dula: Kasus DBD Sudah pada Level Mengkhawatirkan

Labuan Bajo – Bupati Manggarai Barat, Drs. Agustinus Ch. Dula mengatakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Manggarai Barat sudah pada level atau tahap mengkhawatirkan.  Pasalnya sepanjang tahun 2018, terdapat 539 kasus DBD. Dari jumlah tersebut 5 orang meninggal dunia. Karena itu berbagai upaya pemberantasan terhadap mata  rantai penyebab DBD harus dilaksanakan scara maksimal.

Pernyataan tersebut disampaikan Bupati Gusti Dula saat memimpin Rapat Pembentukan Satuan Tugas (Satgas) dan Tim Sekretariat (Posko) Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue (DBD) Kabupaten Manggarai Barat, di ruang rapat Bupati Manggarai Barat, Senin (07/01). “Kasus DBD di daerah kita ini (Mabar; red) sudah pada tahap yang sangat mengkhawatirkan. Karena itu saya ajak kita sekalian, untuk bersama-sama memberantas penyebaran DBD. Jangan sampai ada korban lagi,” katanya.

Rapat pembentukan Satgas ini dihadiri juga oleh Wakil Bupati Manggarai Barat, drh. Maria Geong, Ph.D., Sekda Kabupaten Manggarai Barat, Mbon Rofinus, SH, M.Si,, Wakapolres Manggarai Barat, Kompol Albert Yonathan Ndun, SH, Perwira Penghubung, para Pimpinan OPD lingkup Penkab Manggarai Barat, pihak Kejaksaan Negeri Manggarai Barat, perwakilan BUMD/BUMN serta para Kepala Desa/Lurah se-kota Labuan Bajo.

Menurut Bupati, sebagai daerah tujuan wisata dunia, kasus DBD tidak boleh ada di Kabupaten Manggarai Barat, karena akan melahirkan cerita negative. “Saya minta perhatian kita sekalian agar kasus DBD ini segera kita tangani secara serius. Ingat daerah kita ini sudah terlanjur terkenal sebagai daerah tujuan wisata dunia,” jelasnya.

Dijelaskannya pemberantasan penyebaran nyamuk DBD harus melibatkan semua pihak terutama warga masyarakat. Kasus DBD tidak akan menyebar jika ada kesadaran akan pentingnya lingkungan yang bersih. “Kita ajak masyarakat agar jaga lingkungan tetap bersih. Dan besok kita melakukan kegiatan bersih-bersih dengan melibatkan seluruh OPD serta elemen masyarakat,” ujar Bupati

Selain bersih-bersih, Bupati juga mengajak masyarakat agar menerapkan pola 3M dalam membasmi mata rantai nyamuk penyebab DBD yakni menutup, menguras dan mengubur. “Menutup bak mandi, menguras dan mengubur sampah yang menyebabkan air menggenang merupakan program menanggulangi DBD yang harus kita terapkan agar lingkungan kita bebas dari nyamuk dan wabah DBD bisa ditekan,” katanya.

Sementara itu pada tempat yang sama Wakil Bupati Maria Geong menambahkan tingginya penularan DBD di jelang akhir tahun 2018, karena jentik-jentik yang memenuhi wadah berisi air, tumbuh menjadi nyamuk dewasa sehingga memicu tingginya penularan penyakit tersebut.

Dikatakannya, ada tiga periode utama DBD antara lain demam, kritis dan pemulihan. Periode demam berlangsung pada hari pertama hingga ketiga. Gejalanya dapat berupa demam tinggi, nyeri seluruh tubuh, nyeri kepala, bintik kemerahan kulit, dan perdarahan gusi/mimisan.

Setelah itu periode kritis berlangsung pada hari ke ketiga hingga ketujuh. Pada periode ini, gejala demam mulai turun, namun sangat rentan jatuh ke dalam periode syok. Pada fase ini akan muncul tanda bahaya berupa tampak sangat lemas, nyeri perut hebat, muntah persisten, dan pendarahan hebat. Kondisi ini sangat membutuhkan pertolongan medis segera untuk mendapatkan terapi resusitasi cairan.

Kasus DBD di Kabupaten Manggarai Barat jelasnya, mendapat perhatian dari pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT). Pihak Pemprov melalui Dinas Kesehatan, mengirim 5 orang dokter ahli Malaria yang dipimpin langsung oleh Kadis Kesehatan Provinsi NTT, drg. Dominikus Minggu Mere, M.Kes.

Dan berdasarkan informasi dari RSUD Komodo dan pihak Puskesmas Labuan Bajo jumlah penderita DBD terus bertambah. Dari tanggal 01 sampai dengan 07 Januari 1019, jumlah penderita DBD sebanyak 52 kasus. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *